Roma non si discute, si ama
oleh: Efri* Drama final Liga Eropa sudah usai. Sevilla berhasil kalahkan Roma dan kembali menancapkan kakinya sebagai rajanya Piala Eropa yang kedelapan kali berturut-turut. Lewat drama adu penalti. Yang membuat kaki penonton mendadak keluar keringat dingin. Saya berada di barisan pendukung klub serigala ibu kota. Kalau dipikir-pikir kenapa pula saya memilih menjadi fans Roma. Bukan karena saya tidak suka Lazio. Iya, Lazio memang musuh bebuyutan mereka. Lalu, kenapa saya tidak memilih Lazio saja. Itu karena saya cintanya dengan Roma. Rumit? Memang demikian. Susah ditebak alasannya kenapa harus mencintai ini klub. Semua karena karena cinta saja. Datang tiba-tiba dan sukar untuk diusir apalagi diperdebatkan. Kalau sudah cinta, segudang alasan rasional bahkan harta pun menjadi tiada arti. Saya sendiri belum pernah berkesempatan datang ke Stadion Olimpico di Italia sana untuk menyaksikan pertandingan Roma secara langsung. Cuma bisa melalui layar kaca. Tapi, kenapa masih mau menonton p...